Kami tiba di Leeds Bradford hari Jumat sekitar pukul 10.30 siang, dijemput oleh Mr Hywel Coleman yang baik hati. Kami langsung menuju hotel tempat kami menginap selama di Leeds. Sekilas tentang Mr Hywel, sekaligus ingin aku ulas disini, karena orang ini sebenarnya sosok yang spesial namun sangat low profile. Perlu diketahui Mr Haywel adalah seorang muslim yang taat, beliau mulai mengenal agama Islam sejak pertengahan 70-an, saat itu beliau bertugas di Indonesia sebagai pengajar bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris bagi para pegawai Depkes, program ini dulu merupakan bantuan dari pemerintah Inggris. Sampai tahun 1985 Mr Hywel masih bertugas di Indonesia, namun kemudian beliau dipanggil oleh University of Leeds untuk memberikan kuliah di universitas ini.
Setibanya kami dihotel, kami diberi sedikit pengarahan oleh Mr Hywel, kemudian kami makan siang bersama setelah itu beristirahat. Ada satu peraturan hotel yang bagi teman-teman sangat memberatkan yaitu tidak boleh merokok didalam ruangan. Mendengar peraturan itu teman-teman yang merokok langsung memasang wajah masam. Rupanya peraturan itu adalah semacam perda (peraturan daerah) yang memberi larangan merokok diruangan baik di tempat umum maupun di rumah pribadi, tapi jika di luar ruangan boleh merokok. Artinya jika mau merokok harus nongkorong di luar dan siap-siap kedinginan, karena disini masih musim dingin.
Tidak terlalu terkejut dengan kondisi cuaca disini, karena sebelum berangkat aku sudah beberapa kali memonitor suhu dan cuaca di Leeds. Untuk siang hari suhu udara rata-rata berkisar 5-9 derajat celcius, untuk malam hari kira-kira 2-4 derajat, cukup dingin sih bagi orang Indonesia yang biasa di iklim tropis. Apalagi di Leeds angin bertiup sangat kencang sepanjang hari, baik siang maupun malam, sudah tentu hembusan angin itu menambah cepat dingin merasuk ke tulang.
Keesokan hari kami dijemput oleh teman-teman dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Leeds yang akan mengajak kami berjalan-jalan mengenal kota Leeds. Tepat pukul 10.00 ketua PPI Rinof menjemput kami di hotel. Tujuan pertama kami adalah stadion Leeds United FC, meskipun LUFC sekarang berada di liga divisi 2, namun kami merasa perlu mengunjungi stadion kesebelasan yang membesarkan Mark Viduka ini bermarkas. Aku jadi ingat pesan duta besar Inggris untuk Indonesia sebelu kami berangkat, beliau berpesan, jika tidak tahu harus berbicara apa di Inggris, maka mulailah bicara tentang sepak bola, dijamin 100% orang Inggris pasti tahu dan pembicaraan akan berlanjut. Maka dari itu, tempat pertama yang kami kunjungi adalah stadion bola.
Seperti biasa kami langsung pasang aksi, berpose, siap untuk difoto. Setelah semua puas berfoto ria, kami mulai memburu merchandise LUFC, kaos, jaket dan pernak-pernik lainnya. Harganya berkisar £10-£20, lumayan murah, itu komentar dari teman PPI yang mengantar kami. Dia bilang, biasanya untuk harga satu potong kaos oblong merchandise asli biasanya berkisar £40 atau sekitar Rp750000. “Mungkin karena kesebelasan Leeds tidak bertanding di divisi utama, jadi harganya murah,” kata dia.
Setelah puas di stadion LUFC, kami kemudian menuju city center, tempat ini semacam pusat kota, pusat perbelanjaan, pusat kantor pemerintahan dan juga bersebelahan dengan University of Leeds. Diakhir pekan, biasanya warga Leeds menjadikan city center sebagai tempat berakhir pekan, berbelanja atau sekedar berjalan-jalan. Kota Leeds juga dikenal sangat heterogen, di city center ini, hampir semua ras dan etnik dari seluruh benua ada disini, mulai dari Afrika, Asia barat, Asia timur, Asia tenggara, Amerika selatan, dll.
0 komentar:
Posting Komentar